Sengitnya Kompetisi Ponsel Premium Baik Untuk Inovasi

Share this Article

Head of Product Management Samsung Indonesia Denny Galant mengatakan sengitnya kompetisi produsen ponsel pintar kelas premium bagus untuk mendorong inovasi. Samsung sendiri, kata Denny terus memutar otak untuk menjejalkan inovasi terkini ke perangkat besutannya.

“Buat kita kompetitor dengan produk-produk inovasi itu kan yang diuntungkan konsumen pada akhirnya. Dan itu memacu kami untuk lebih melakukan inovasi,” kata Denny usai acara peluncuran Note 9 di Pacific Place, Jakarta Selatan, Kamis (23/8).

Pasar premium diklaim berkembang

Denny mengklaim dari segmen ponsel premium, Samsung masih menguasai 70 persen pangsa pasar. Kendati demikian, laporan lembaga riset pasar GfK ini dirilis pada Juli 2017.

“Di Indonesia kita lihat masih leading pasar premium. Pangsa pasar kami masih 70 persen di premium dengan harga Rp8 juta ke atas,” kata Denny.

Indonesia disebut-sebut sebagai pasar ponsel premium yang sedang berkembang. Hal ini menurut Head of Product Management Samsung Indonesia Denny Galant ditandai dengan ludesnya penjualan pre order Samsung Galaxy Note 9 sebelum masa berakhirnya pre order.

Jo menjelaskan layanan purna jual ini di antaranya adalah Samsung Member dan layanan Samsung Service Center. Samsung Member ini memungkinkan bagi pengguna yang memiliki pertanyaan atau ingin diajarkan fitur-fitur ponsel Samsung yang dimilikinya.“Pangsa pasar premium masih tumbuh, salah satu indikator pre-order Note 9 yang positif. Pre order kita saja sudah habis. Itu salah satu indikator bahwa pasar masih berkembang. Baru kali ini belum waktunya berakhir sudah sold out. Di beberapa channel bahkam langsung habis satu sampai dua hari,” ujar Denny lagi.

Secara kuantitas, menurut Danny pra penjualan Note 9 laku lebih banyak dan lebih cepat dari Note 8. Pra penjualan Note 9 disebut 1,5 kali lebih banyak dan dua kali lebih cepat dari pre order Note 8.

Note 9 sendiri dijual dengan harga Rp18 juta untuk RAM 8 GB dan ROM 512 GB. Sementara untuk Note 9 dengan RAM 6 GB dan ROM 128 GB dijual dan Rp13,5 juta. Pra penjualan dilakukan pada 10 Agustus. Meski demikian Denny tidak merinci berapa sebenarnya jumlah produk yang disediakan untuk masa pra penjualan tersebut.

Perkuat purna jual

Dalam kesempatan yang sama, IT & Mobile Marketing Director Samsung Indonesia Jo Semidang mengatakan salah satu strategi dan kekuatan Samsung adalah tidak hanya fokus ke penjualan tapi juga layanan purna jual.

“Strateginya kami juga pandang hubungan dengan konsumen juga jangka panjang. Jadi kami kuatkan layanan purna jual. Bukan hanya layani saat beli. Samsung melihat holistik bukan hanya jualan. Ini adalah kekuatan Samsung,” kata Jo.

Fokus ini disebut Jo merupakan salah satu keunggulan Samsung. Pasalnya banyak konsumen yang meragukan sebuah merek karena layanan purna jual nya tidak memuaskan terutama apabila terjadi kerusakan pada ponsel.

“Konsumen sering memikirkan ‘harganya murah, tapi kalau rusak gimana. Kalau rusak terus tidak diganti dan beli lagi jatuhnya lebih mahal. Kalau kita ya datang aja ke service center. Pelayanan cepat, kadang kita kasih diskon juga,” ujar Jo.

Jo juga menyebut brand Samsung juga masih kuat di Indonesia. Brand menurut Jo merupakan sesuatu yang penting dan dipertimbangkan oleh konsumennya saat membeli suatu produk.

Menurut Jo, brand yang bagus ini memberikan rasa kepercayaan pada konsumen.

“Brand itu penting ketika berjualan. Belum tentu orang mau beli dari brand yang tidak jelas. Brand yang ditaruh akan penting dan merubah persepsi orang. Kami masih kuat brandnya. Konsumen tidak hanya lihat barang saja pada saat beli,” kata Jo.

Sumber: cnnindonesia.com

Share this Article


Artikel Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *