Peretas Sangat ‘Murka’ Usai Kematian George Floyd

Share this Article

Setelah kematian pria berkulit hitam, George Floyd asal Amerika Serikat, kemudian isu menyebar dengan aksi protes di beberapa wilayah di Amerika Serikat.

Sejak kematiannya pada Senin (25/5) rupanya banyak yang mengecam kasus tersebut, bahkan sejumlah peretas (hacker) meluapkan emosinya dengan cara aksi secara online.

Berdasarkan informasi, baru-baru ini yang diliris oleh firma keamanan siber Cloudflare, ada isu yang menyeramkan karena kurang lebih 135 miliar serangan siber pada akhir pekan lalu, yaitu tepatnya tanggal 30 dan 31 Mei.

Bahkan angka tersebut melonjak 17 persen dalam periode saat ini dibandingkan bulan lalu, Cloudflare hanya mencatat sekitar 116 miliar serangan siber yang dilakukan.

Mengutip dari msn, lebih spesifik, sejumlah situs web milik pembela hukum dan advokat (Advocacy Groups), termasuk aneka situs anti-rasisme, terpantau mengalami peningkatan serangan siber hingga 1.120 kali lipat.

Adapun jumlah serangan siber terhadap situs-situs tersebut mencapai 120 juta serangan. Hal ini menjadi menarik lantaran pada periode yang sama bulan lalu, serangan siber terhadap situs-situs Advocacy Groups ini nyaris nihil.

Pihak Cloudflare mengklaim bahwa jenis cyberattack yang diluncurkan para peretas berupa serangan Disteibuted Denial of Service (DDoS), atau serangan guna melumpuhkan situs atau sebuah aplikasi.

Diketahui, DDoS sendiri merupakan serangan paket data dalam jumlah besar ke sebuah server. Masifnya jumlah paket data yang diterima dalam waktu bersamaan bisa mengakibatkan server melambat, bahkan tumbang.

Disisi lain, kategori situs Advocacy Groups, beberapa peretasan terhadap situs milik pemerintah diklaim turut meningkat. Serangan siber yang diluncurkan terhadap situs pemerintahan di 30 dan 31 Mei meningkat 1,8 kali lipat dibandingkan pada Minggu terakhir di bulan April.

Bahkan sejumlah serangan siber terhadap situs militer pun ikut terkena dampaknya dengan meningkat 3,8 kali lipat.

Terkait itu semua, pihak Cloudflare sangat memaklumi karena kerusuhan ini sangat ramai terjadi di Amerika Serikat.

“Seperti kita tahu, protes dan kekerasan yang terjadi di dunia nyata biasanya disertai dengan serangan di internet,” ujar pihak Cloudflare.

“Jika melihat kejadian yang sudah-sudah, orang-orang yang menentang penindasan, sayangnya, akan terus dijejali dengan serangan siber yang bakal bikin mereka bungkam,” pungkas Cloudflare.

Sumber

Share this Article


Artikel Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *