Benarkah Pria berotot cenderung Kurang Subur ?

Beredar sebuah kabar di media mainstream luarnegeri dan Indonesia salahsatunya di harian Kompas, bahwa pria dengan otot yang besar berpotensi memiliki tingkat kesuburan rendah.


Penasaran, tim berseru mencoba caritahu nih. Bukan cari tahu bulat yang suka nongkrong dimanana saja dan kapan saja secara dadakan loh sobat berseru. Hihihi.

Riset yang melibatkan 118 pria di University of Western Australia secara yakin menyampaikan bahwa kecenderungannya Pria dengan Otot besar dan lebih atraktif, biasanya memiliki tingkat kesuburan lebih rendah dibanding sebaliknya. Hal ini diukur dari jumlah dan kualitas semen yang diteliti dari 118 objek penelitian.

Studi ini yang dipublikasikan dalam Jurnal Animal Behavior, menjelaskan bagaimana proses penelitian dilakukan. Para pria aka dimintai foto fullbodynya dan juga diambil sampel semen nya, sementara para wanita akan diminta untuk menilai lewat foto, pria mana saja yg sangat atraktif secara fisik dan terlihat kuat.

Hasilnya, pria-pria yang dinilai oleh para wanita tadi sebagai pria yg atraktif secara fisik, cenderung memiliki cairan semen yang kurang berkualitas, baik dari jumlah sel, pergerakan sel, dan bentuk sel.

Meski demikian studi ini tidak menguji lebih dalam mengapa pria yang atraktif memproduksi lebih sedikit semen ? Dalam studi lain diisyaratkan bahwa memang ada kecenderungan karena Pria atraktif akan jadi pilihan banyak wanita, perilaku psikologinya seolah memprogram agar mereka mencadangkan jumlah semennya untuk banyak pasangan, sementara yang kurang atraktif seolah terprogram bahwa mereka hanya akan punya kesempatan kecil untuk bertemu pasangan maka itu mereka seolah terprogram bawah sadar untuk sebanyak-banyaknya membentuk sel semen dan tidak mencadangkannya.

Di sisi lain ada juga teori yang menyatakan bahwa proses pembentukan otot dapat melepas energi yang tinggi dalam mengubah tingkat hormon seksual, hal ini dapat dibuktikan dengan melakukan pengukuran pada pria sebelum dan setelah olahraga.

Hasilnya, Dr Mollie Manier, ahli biologi di George Washington University yang meriset sperma dan kompetisi seksual menegaskan bahwa meski ada hubungan antara olahraga, bina otot, dengan kesuburan tapi hubungannya tidak one-to-one dalam artian tidak selalu berlaku pasti. 

Ada yang berotot tapi subur, dan juga ada yang tidak berotot dan tidak subur. Berarti dapat disimpulkan bahwa hubungan antara pria berotot dengan kesuburan meski ada, tapi belum bisa dinyatakan pasti apa penyebabnya, maka itu berhenti olahraga dan bina otot bukan lah solusi juga. So ? Tetaplah berolahraga ya rekan2.