Kisah Tragis, Søren Kierkegaard Usai Patah Hati Hingga Melahirkan Karya Besar

Share this Article

Søren Aabye Kierkegaard adalah filsuf dan teolog yang berasal dari Denmark lahir pada 5 Mei 1813. Ia dikenal sebagai sosok penting, yang merupakan pertama dalam pandangan filsafat eksistensialisme di abad ke-19.

Dari pandangannya menjadi sebuah hakikat untuk manusia serta menjadi inspirasi untuk lahirnya filsuf-filsuf besar seperti Jean-Paul Satre dan Friedrich Nietzsche.

Namun, di balik itu semua! Søren memiliki perjalanan hidup yang tidak biasa, karena dia menempuh hidup yang tak mudah dan menarik. Penasaran? Yuk simak ulasan dibawah ini, Berikut kisahnya:

Latar belakang

Søren Kierkegaard merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Michael Pedersen Kierkegaard yang merupakan seorang pengusaha kaya raya.

Sementara ibunya yang bernama Ane Sørensdatter Lund, merupakan seorang pembantu rumah tangga yang dinikahi setelah kematian istri pertamanya.

Pedersen merupakan sosok ayah yang keras kepala, bahkan memiliki rasa bersalah yang berlarut-larut dalam hidupnya. Dari situlah, kehidupan Søren Kierkegaard yang terbilang tak mudah dan menarik.

Tragedi dalam keluarga

Ayahnya sangat merasa bersalah selama hidupnya, karena saat muda ia sempat mengutuk Tuhan. Pedersen terpaksa menikahi Ane Sørensdatter, pembantu rumah tangganya karena sudah hamil duluan.

Pedersen selaku ayah Kierkegaard, sempat meramal jika anak-anaknya akan meninggal di usia muda, karena karma yang menimpahnya akibat dosa yang ia lakukan.

Hal tersebut benar terjadi, saat kelima anaknya meninggal dunia ketika masih muda, yang tersisa hanya Soren Kierkegaard dan satu saudaranya. Pada akhirnya Kierkegaard juga meninggal di usia 42 tahun, usia tersebut terbilang tak terlalu panjang.

Kisah cinta yang tragis

Saat masa pendidikannya di University of Copenhagen, Kierkegaard jatuh cinta pada wanita yang bernama Regine Olsen. Pada tahun 1940, ia langsung melamar dan akhirnya diterima oleh sang pujaan hatinya.

Namun, Kierkegaard merupakan sosok melankolis, ia selalu berfikir mendalam tentang segal hal, termasuk urusan cinta. Perasaan khawatir yang tak mampu membahagiakan kekasihnya selalu menghantui.

Anehnya, Kierkegaard memutuskan pertunangannya karena cintanya tak setimpal dengan ketulusan Regine Olsen. Keputusan tersebut adalah penyesalan sepanjang hidupnya.

Sehingga Regina Olsen, memutuskan menikah dengan orang lain, sementara Kierkegaard meninggal dunia tanpa pernah menikah.

Rasa kehilangan membuat Kierkegaard produktif melahirkan sebuah karya

Sempat kehilangan ayah dan patah hati oleh cinta, memang mempengaruhi kehidupan Kierkegaard. Tapi dari itulah, yang menjadi pemicu ide lahirnya karya besar sang filsuf Eksistensialisme.

Karya-karya yang dilahirkan seperti Enten-Eller: et livs-fragment (1843; Either/Or: A Fragment of Life), Gjentagelsen (1843; Repetition), Frygt og baeven (1843; Fear and Trembling), Philosophiske smuler (1844; Philosophical Fragments), Begrebet angest (1844; The Concept of Anxiety), Stadier paa livets vei (1845; Stages on Life’s Way), and Afsluttende uvidenskabelig efterskrift (1846; Concluding Unscientific Postscript).

Nah, itulah ulasan cerita kisah hidup Søren Aabye Kierkegaard yang dikenal sebagai filsuf Eksistensialisme. Namun, dari kisah yang tragis tersimpan beberapa kisah inspiratif yang bisa dipetik.

Sumber

Share this Article


Artikel Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *